NASIONALISME SISWA SEKOLAH DASAR
DI PULAU SEBATIK, KALIMANTAN TIMUR
Oleh: Asis Wahyudi, dkk
Universitas Negeri Malang, 2012
Oleh: Asis Wahyudi, dkk
Universitas Negeri Malang, 2012
Pulau Sebatik
adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di sebelah timur laut
Kalimantan. Pulau ini secara administratif dibagi menjadi dua bagian. Merupakan
bagian dari Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, sekaligus
di sisi lain menjadi bagian dari dari Negara Sabah, Malaysia. Pulau seluas
247,47 km2 itu berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia yakni
Kota Tawau yang berada di negara bagian Sabah, Malaysia. Sebagian besar masalah infrastruktur
menjadi kendala dalam mencapai keutuhan suatu masyarakat perbatasan. Seperti
yang dikutip dari vivanews.com bahwa
sekelompok warga dari daerah perbatasan Kalimantan-Malaysia mengancam akan
mengibarkan bendera Malaysia apabila infrastruktur daerah mereka tidak
diperbaiki (Vivanews, 2011). Kondisi seperti inilah yang menjadi pengancam rasa
nasionalisme suatu bangsa. Sebagian besar anak-anak Sebatik pernah disekolahkan di Tawau Malaysia, karena itulah sebagian besar anak-anak
Sebatik berbicara dalam logat Melayu. Banyak anak TKI yang bersekolah di Malaysia, tak begitu
familier dengan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Mereka justru menghafal lagu
‘Negaraku’, yang merupakan lagu kebangsaan Malaysia Harian Republika (2011).
Dalam hal mata uang pun mereka cenderung lebih mengenal mata uang ringgit
daripada rupiah. Kasus yang pernah ditayangkan dalam salah satu stasiun TV
swasta di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar anak Sebatik tersebut kurang mengetahui mata uang
rupiah. Saat ditunjukkan mata uang
ringgit, mereka justru mampu
menjawabnya. Masih banyak
siswa yang putus sekolah di Sebatik. Menurut harian Tribun Kaltim (2011), angka
siswa yang putus sekolah di tingkat dasar masih tergolong tinggi. Hal ini
dipengaruhi oleh minimnya ketersediaan fasilitas sekolah di Sebatik. Sehingga,
hal ini ”memaksa” orang tua yang tergolong mampu cenderung menyekolahkan
anaknya di Tawau, Malaysia.
Sebagai warga Negara Indonesia sudah sewajarnya kita
harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, apalagi bagi siswa yang tinggal
di daerah perbatasan. Wilayah perbatasan merupakan pintu gerbang wilayah NKRI.
Wilayah ini menjadi teras masuk bangsa Indonesia, sudah sewajarnya wilayah ini
memiliki penduduk yang menjunjung tinggi nilai dan budaya Indonesia. Apalagi
siswa siswi sekolah dasarnya, yang
masih memiliki sifat polos dan gampang dipengaruhi. Awal dari baik atau
tidaknya seseorang biasanya berawal dari masa anak-anak (dalam hal ini siswa
SD).
Nasionalisme Siswa Sekolah Dasar di Pulau Sebatik yang bersekolah
di Sebatik, Kalimantan Timur
Berdasarkan
hasil penghitungan dengan metode skoring dapat dilihat bahwa dalam aspek pengetahuan dan sikap sebagian besar siswa di
Pulau Sebatik, Indonesia memiliki tingkat nasionalisme yang tergolong tinggi.
Hal ini dikarenakan pengetahuan yang mereka miliki tentang Indonesia berasal
dari buku dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Meskipun tempat tinggal mereka
berada di perbatasan Indonesia dan sebagian besar mereka pernah bersekolah di
Tawau, mereka memiliki pengetahuan yang cukup tinggi tentang Indonesia. Akan
tetapi, berdasarkan aspek perbuatan yang diperoleh dari hasil observasi dan
wawancara dapat dijelaskan bahwa siswa di Sebatik, Indonesia belum melakukan
perbuatan yang mencermikan sikap nasionalisme yag tinggi. Sebagian besar dari
Siswa di Sebatik masih menggunakan mata uang ringgit dalam membeli makanan di
kantin sekolah. Berdasarkan hasil wawncara dengan salah beberapa siswa dan
guru, hampir semua barang dan makanan yang ada di Sebatik berasal dari Tawau,
Malaysia.
Pelaksanaan
upacara bendera ada hari senin pun juga belum lama dan rutin dilaksanakan.
Menurut hasil wawancara dengan penduduk sekaligus PNS di Sebatik (2012)
rata-rata sekolah di Sebatik baru melaksanakan upacara bendera hari senin baru
dua tahun belakangan ini, sebelumnya belum pernah. Begitu pula dengan kebiasaan
mereka yang lebih juga makan makanan produk Malaysia. Selain karena enak dan
bervariasi, produk Malaysia harganya juga lebih murah. Hal ini dikarenakan
hubungan yang begitu erat antara warga Sebatik dengan Malaysia yang sulit untuk
dipisahkan. Anggota keluarga dan kerabat mereka banyak yang ada di Tawau,
karena pada awal sebelum sebagian Pulau Sebatik ditetapkan sebagai wilayah NKRI
pada tahun 1981 (Noveria, 2006 ) mereka tersebar dan terpisah satu sama lain.
Masyarakat Sebatik memiliki ketergantungan
yang tinggi dengan Kota Tawau, Malaysia, terutama di bidang ekonomi. Dengan perannya
sebagai pasar potensial bagi produk-produk (pertanian, perkebunan, serta
perikanan) dari Kalimantan Timur, terutama Sebatik, juga sebagai penyedia
berbagai barang keperluan sehari-hari, Kota Tawau menjadi tujuan mobilitas
penduduk Pulau Sebatik untuk menjual barang-barang produksi dan berbelanja
barang-barang keperluan rumah tangga. Selain itu, ketersediaan lapangan kerja,
meskipun melalui prosedur illegal,
merupakan daya tarik bagi angkatan kerja dari Pulau Sebatik.
Nasionalisme Siswa Sebatik yang Bersekolah di Tawau Malaysia
Siswa
Sebatik yang bersekolah di Tawau Malaysia sebagian besar memiliki tingkat
nasionalisme yang tergolong cukup dalam aspek pengetahuan dan sikap. Hal ini
karena mereka belum sepenuhya mengenal Indonesia secara langsung, bahkan
guru-guru mereka juga berasal dari warga Negara Malaysia, hanya sebagian yang
berkebangsaaan Indonesia. Mereka dilahirkan di Malaysia, sejak kecil mereka
sudah berada di Malaysia. Bahkan setiap haripun mereka menggunakan mata uang
riggit dan bahasa melayu. Hal inilah yang menjadi faktor utama yang
mempengaruhi tingkat nasionalisme siswa di Tawau Malaysia. Faktor lain yang
mempengaruhi yakni bahwa siswa di Holy Trinity yang merupakan sekolah khusus
anak TKI di Malaysia belum memiliki seragam sekolah, seperti siswa di
Indonesia.
Hal ini
hampir sama dengan siswa Sebatik yang disekolahkan oleh orang tuanya di sekolah
kerajaan Malaysia.Mereka menggunakan kurikulum Malaysia dan segala aturan
tentang pendidikan Malaysia. Mereka juga tidak diajarkan mengenai lagu
kebangsaan Indonesia Raya apalagi Pancasila. Setiap harinya mereka mengenal
Malaysia, bukan Indonesia. Menurut keterangan dari orang tua murid yang
menyekolahkan anaknya di Sekolad Dasar di Kerajaan Malaysia (wawancara pribadi,
2012) mereka lebih suka mensekolahkan anak mereka di Malaysia karena kualitas
pendidikan di Malaysia lebih baik daripada di Sebatik. Anak-anak bisa
bersekolah dengan jaminan pekerjaan dari pemerintah setelah mereka lulus.
Begitu pula dengan pelayanan di Malaysia lebih nyaman, siswa tidak perlu
bersusah payah mencari sekolah ketika mereka lulus dari satu jenjang
pendidikan, pemerintah lah yang akan menempatkan mereka di sekolah sesuai
dengan bakat yang dimiliki siswa.
Nasionalisme Siswa SD yang bersekolah di Sebatik dengan siswa yang
bersekolah di Tawau, Malaysia
Berdasarkan
aspek pengetahuan dan sikap, tingkat nasionalisme siswa SD yang bersekolah di
Sebatik termasuk lebih tinggi daripada tingkat nasionalisme siswa SD yang
bersekolah di Tawau, Malaysia. Hal ini dipengaruhi bahwa keberadaan siswa
Sebatik yang berada di Indonesia mendapatkan materi dan kurikulum tentang Indonesia lebih banyak.
Apalagi siswa Sebatik di Indonesia juga mendapatkan pengajaran dari guru-guru
Indonesia asli. Keadaan yang demikian tersebut berbeda jauh dengan anak-anak
TKI Sebatik di Tawau Malaysia. Meskipun mereka diajarkan mengenai kurikulum
Indonesia, tetapi kehidupan setiap harinya mereka menggunakan budaya Malaysia.
Bahasa, mata uang, kebudayaan, dan segala hal tentang Malaysia mereka peroleh
di bangku sekolah. Begitu pula dengan guru-guru di sekolah yang sebagian besar
merupakan warga Negara Malaysia. Hal ini senada dengan siswa SD Sebatik yang
bersekolah di sekolah kerajaan Malaysia di Tawau, Malaysia. Mereka bahkan
menggunakan kurikulum dan segala hal dengan pendidikan di Malaysia. Bahkan
mereka tidak tahu sama sekali tentang lagu Indonesia Raya.
Kondisi
demikian memang tidak bisa disalahkan, karena masyarakat Sebatik memiliki
ketergantungan secara ekonomi kepada negara Malaysia. Hubungan timbal balik
antara Negara Indonesia dan Malaysia dalam bidang ekonomi maupun tenaga kerja
menjadi faktor utama yang menyebabkan mereka bisa menghidupi keluarga. Akan
tetapi, di sisi lain hal ini menyebabkan mata uang ringgit dan segala
kebudayaan dari Malaysia bercampur baur di Sebatik yang mempengaruhi kebiasaan
masyarakat termasuk anak-anak di Sebatik, Indonesia. Sebatik, sebagai wilayah
perbatasan sekaligus teras NKRI sudah mulai luntur cirri-ciri nasionalismenya.
Masyarakat Sebatik sendiri tidak bisa disalahkan, tetapi memang karena
kurangnya peembangunan di wilayah tersebut.
KESIMPULAN
Tingkat
Nasionalisme siswa Sebatik yang bersekolah di Sebatik, Indonesia tergolong
tinggi dalam aspek pengetahuan dan sikap. Akan tetapi berdasarkan aspek
perbuatan, siswa Sekolah Dasar di Sebatik belum mencerminkan nilai-nilai
nasionalisme. Sedangkan tingkat nasionalisme siswa SD Sebatik yang bersekolah
di Tawau, Malaysia berdasarkan aspek pengetahuan dan sikap tergolong cukup. .
Akan tetapi berdasarkan aspek perbuatan, siswa Sekolah Dasar Sebatik yang
bersekolah di Tawau belum mencerminkan nilai-nilai nasionalisme, kerena memang
mereka tinggal di Malaysia.
Ketergantungan
yang sangat besar dalam bidang ekonomi maupun tenaga kerja dari penduduk
Sebatik, Indonesia dengan Kota Tawau, Malaysia menjadi faktor utama yang
mempengaruhi nasionalisme penduduk Sebatik, terutama siswa sekolah dasar.
Hubungan timbal balik antara kedua wilayah yang berbeda negara ini memang tidak
bisa dibendung dan akan bertahan terus sepanjang waktu selama Koa Tawau
memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Sebatik. Warga sebatik membutuhkan Kota
Tawau untuk menjual hasil perdagangan mereka dengan harga jual yang tinggi,
karena apabila dijual ke Tarakan keuntungannya sangat kecil. Begitu pula
sebaliknya, Tawau membutuhkan bahan mentah dari Sebatik untuk diolah dan
membutuhkan tenaga kerja dari Sebatik untuk mengolah perkebunan kelapa sawit
mereka, terkadang mereka juga bekerja sebagai buruh bangunan maupun penjaga toko.
Sumber:
Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta,
Jakarta, pp. 12, 141, dan 151.
Noveria,
Mita. 2006. Mobilitas Penduduk
Sebatik-Tawau: Dari Perdagangan Sampai Pengobatan, (online),
(http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/8446/8446.pdf)
, diakses 10 Maret 2012.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Tribun, Kaltim.
2011. Tingginya Angka Putus Sekolah di
Sebatik, (online), (http://tribunkaltim.com/2011/08/angka-putus-sekolah-sebatik.html), diakses tanggal 15 Agustus 2011.
Wiyono, B. B. (2004). Metode Penelitian Kuantitatif, Program SP4 Jurusan Administrasi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Malang, pp. 24, 29, dan 37.
Yudhi. 2008. Nasionalisme,
(online), (http://yudhim.blogspot.com/2008/01/nasionalisme.html), diakses
tanggal 15 Agustus 2011.
File Artikel PDF silakan lihat di link berikut