Rabu, 16 Januari 2013

NASIONALISME SISWA SEKOLAH DASAR DI PULAU SEBATIK, KALIMANTAN TIMUR

Oleh: Asis Wahyudi, dkk

Universitas Negeri Malang, 2012


Pulau Sebatik adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di sebelah timur laut Kalimantan. Pulau ini secara administratif dibagi menjadi dua bagian. Merupakan bagian dari Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, sekaligus di sisi lain menjadi bagian dari dari Negara Sabah, Malaysia. Pulau seluas 247,47 km2 itu berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia yakni Kota Tawau yang berada di negara bagian Sabah, Malaysia. Sebagian besar masalah infrastruktur menjadi kendala dalam mencapai keutuhan suatu masyarakat perbatasan. Seperti yang dikutip dari vivanews.com bahwa sekelompok warga dari daerah perbatasan Kalimantan-Malaysia mengancam akan mengibarkan bendera Malaysia apabila infrastruktur daerah mereka tidak diperbaiki (Vivanews, 2011). Kondisi seperti inilah yang menjadi pengancam rasa nasionalisme suatu bangsa. Sebagian besar anak-anak Sebatik pernah disekolahkan di Tawau Malaysia, karena itulah sebagian besar anak-anak Sebatik berbicara dalam logat Melayu. Banyak anak TKI yang bersekolah di Malaysia, tak begitu familier dengan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Mereka justru menghafal lagu ‘Negaraku’, yang merupakan lagu kebangsaan Malaysia Harian Republika (2011).

Dalam hal mata uang pun mereka cenderung lebih mengenal mata uang ringgit daripada rupiah. Kasus yang pernah ditayangkan dalam salah satu stasiun TV swasta di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar anak Sebatik tersebut kurang mengetahui mata uang rupiah. Saat ditunjukkan mata uang ringgit, mereka justru mampu menjawabnya. Masih banyak siswa yang putus sekolah di Sebatik. Menurut harian Tribun Kaltim (2011), angka siswa yang putus sekolah di tingkat dasar masih tergolong tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya ketersediaan fasilitas sekolah di Sebatik. Sehingga, hal ini ”memaksa” orang tua yang tergolong mampu cenderung menyekolahkan anaknya di Tawau, Malaysia.
Sebagai warga Negara Indonesia sudah sewajarnya kita harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, apalagi bagi siswa yang tinggal di daerah perbatasan. Wilayah perbatasan merupakan pintu gerbang wilayah NKRI. Wilayah ini menjadi teras masuk bangsa Indonesia, sudah sewajarnya wilayah ini memiliki penduduk yang menjunjung tinggi nilai dan budaya Indonesia. Apalagi siswa siswi sekolah dasarnya, yang masih memiliki sifat polos dan gampang dipengaruhi. Awal dari baik atau tidaknya seseorang biasanya berawal dari masa anak-anak (dalam hal ini siswa SD).


Nasionalisme Siswa Sekolah Dasar di Pulau Sebatik yang bersekolah di Sebatik, Kalimantan Timur


Berdasarkan hasil penghitungan dengan metode skoring dapat dilihat bahwa dalam aspek  pengetahuan dan sikap sebagian besar siswa di Pulau Sebatik, Indonesia memiliki tingkat nasionalisme yang tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang mereka miliki tentang Indonesia berasal dari buku dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Meskipun tempat tinggal mereka berada di perbatasan Indonesia dan sebagian besar mereka pernah bersekolah di Tawau, mereka memiliki pengetahuan yang cukup tinggi tentang Indonesia. Akan tetapi, berdasarkan aspek perbuatan yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dapat dijelaskan bahwa siswa di Sebatik, Indonesia belum melakukan perbuatan yang mencermikan sikap nasionalisme yag tinggi. Sebagian besar dari Siswa di Sebatik masih menggunakan mata uang ringgit dalam membeli makanan di kantin sekolah. Berdasarkan hasil wawncara dengan salah beberapa siswa dan guru, hampir semua barang dan makanan yang ada di Sebatik berasal dari Tawau, Malaysia.

Pelaksanaan upacara bendera ada hari senin pun juga belum lama dan rutin dilaksanakan. Menurut hasil wawancara dengan penduduk sekaligus PNS di Sebatik (2012) rata-rata sekolah di Sebatik baru melaksanakan upacara bendera hari senin baru dua tahun belakangan ini, sebelumnya belum pernah. Begitu pula dengan kebiasaan mereka yang lebih juga makan makanan produk Malaysia. Selain karena enak dan bervariasi, produk Malaysia harganya juga lebih murah. Hal ini dikarenakan hubungan yang begitu erat antara warga Sebatik dengan Malaysia yang sulit untuk dipisahkan. Anggota keluarga dan kerabat mereka banyak yang ada di Tawau, karena pada awal sebelum sebagian Pulau Sebatik ditetapkan sebagai wilayah NKRI pada tahun 1981 (Noveria, 2006 ) mereka tersebar dan terpisah satu sama lain.

  Masyarakat Sebatik memiliki ketergantungan yang tinggi dengan Kota Tawau, Malaysia, terutama di bidang ekonomi. Dengan perannya sebagai pasar potensial bagi produk-produk (pertanian, perkebunan, serta perikanan) dari Kalimantan Timur, terutama Sebatik, juga sebagai penyedia berbagai barang keperluan sehari-hari, Kota Tawau menjadi tujuan mobilitas penduduk Pulau Sebatik untuk menjual barang-barang produksi dan berbelanja barang-barang keperluan rumah tangga. Selain itu, ketersediaan lapangan kerja, meskipun melalui prosedur illegal, merupakan daya tarik bagi angkatan kerja dari Pulau Sebatik.  



Nasionalisme Siswa Sebatik yang Bersekolah di Tawau Malaysia


Siswa Sebatik yang bersekolah di Tawau Malaysia sebagian besar memiliki tingkat nasionalisme yang tergolong cukup dalam aspek pengetahuan dan sikap. Hal ini karena mereka belum sepenuhya mengenal Indonesia secara langsung, bahkan guru-guru mereka juga berasal dari warga Negara Malaysia, hanya sebagian yang berkebangsaaan Indonesia. Mereka dilahirkan di Malaysia, sejak kecil mereka sudah berada di Malaysia. Bahkan setiap haripun mereka menggunakan mata uang riggit dan bahasa melayu. Hal inilah yang menjadi faktor utama yang mempengaruhi tingkat nasionalisme siswa di Tawau Malaysia. Faktor lain yang mempengaruhi yakni bahwa siswa di Holy Trinity yang merupakan sekolah khusus anak TKI di Malaysia belum memiliki seragam sekolah, seperti siswa di Indonesia.

Hal ini hampir sama dengan siswa Sebatik yang disekolahkan oleh orang tuanya di sekolah kerajaan Malaysia.Mereka menggunakan kurikulum Malaysia dan segala aturan tentang pendidikan Malaysia. Mereka juga tidak diajarkan mengenai lagu kebangsaan Indonesia Raya apalagi Pancasila. Setiap harinya mereka mengenal Malaysia, bukan Indonesia. Menurut keterangan dari orang tua murid yang menyekolahkan anaknya di Sekolad Dasar di Kerajaan Malaysia (wawancara pribadi, 2012) mereka lebih suka mensekolahkan anak mereka di Malaysia karena kualitas pendidikan di Malaysia lebih baik daripada di Sebatik. Anak-anak bisa bersekolah dengan jaminan pekerjaan dari pemerintah setelah mereka lulus. Begitu pula dengan pelayanan di Malaysia lebih nyaman, siswa tidak perlu bersusah payah mencari sekolah ketika mereka lulus dari satu jenjang pendidikan, pemerintah lah yang akan menempatkan mereka di sekolah sesuai dengan bakat yang dimiliki siswa.



Nasionalisme Siswa SD yang bersekolah di Sebatik dengan siswa yang bersekolah di Tawau, Malaysia


Berdasarkan aspek pengetahuan dan sikap, tingkat nasionalisme siswa SD yang bersekolah di Sebatik termasuk lebih tinggi daripada tingkat nasionalisme siswa SD yang bersekolah di Tawau, Malaysia. Hal ini dipengaruhi bahwa keberadaan siswa Sebatik yang berada di Indonesia mendapatkan materi dan  kurikulum tentang Indonesia lebih banyak. Apalagi siswa Sebatik di Indonesia juga mendapatkan pengajaran dari guru-guru Indonesia asli. Keadaan yang demikian tersebut berbeda jauh dengan anak-anak TKI Sebatik di Tawau Malaysia. Meskipun mereka diajarkan mengenai kurikulum Indonesia, tetapi kehidupan setiap harinya mereka menggunakan budaya Malaysia. Bahasa, mata uang, kebudayaan, dan segala hal tentang Malaysia mereka peroleh di bangku sekolah. Begitu pula dengan guru-guru di sekolah yang sebagian besar merupakan warga Negara Malaysia. Hal ini senada dengan siswa SD Sebatik yang bersekolah di sekolah kerajaan Malaysia di Tawau, Malaysia. Mereka bahkan menggunakan kurikulum dan segala hal dengan pendidikan di Malaysia. Bahkan mereka tidak tahu sama sekali tentang lagu Indonesia Raya.

Kondisi demikian memang tidak bisa disalahkan, karena masyarakat Sebatik memiliki ketergantungan secara ekonomi kepada negara Malaysia. Hubungan timbal balik antara Negara Indonesia dan Malaysia dalam bidang ekonomi maupun tenaga kerja menjadi faktor utama yang menyebabkan mereka bisa menghidupi keluarga. Akan tetapi, di sisi lain hal ini menyebabkan mata uang ringgit dan segala kebudayaan dari Malaysia bercampur baur di Sebatik yang mempengaruhi kebiasaan masyarakat termasuk anak-anak di Sebatik, Indonesia. Sebatik, sebagai wilayah perbatasan sekaligus teras NKRI sudah mulai luntur cirri-ciri nasionalismenya. Masyarakat Sebatik sendiri tidak bisa disalahkan, tetapi memang karena kurangnya peembangunan di wilayah tersebut.



KESIMPULAN

Tingkat Nasionalisme siswa Sebatik yang bersekolah di Sebatik, Indonesia tergolong tinggi dalam aspek pengetahuan dan sikap. Akan tetapi berdasarkan aspek perbuatan, siswa Sekolah Dasar di Sebatik belum mencerminkan nilai-nilai nasionalisme. Sedangkan tingkat nasionalisme siswa SD Sebatik yang bersekolah di Tawau, Malaysia berdasarkan aspek pengetahuan dan sikap tergolong cukup. . Akan tetapi berdasarkan aspek perbuatan, siswa Sekolah Dasar Sebatik yang bersekolah di Tawau belum mencerminkan nilai-nilai nasionalisme, kerena memang mereka tinggal di Malaysia.

Ketergantungan yang sangat besar dalam bidang ekonomi maupun tenaga kerja dari penduduk Sebatik, Indonesia dengan Kota Tawau, Malaysia menjadi faktor utama yang mempengaruhi nasionalisme penduduk Sebatik, terutama siswa sekolah dasar. Hubungan timbal balik antara kedua wilayah yang berbeda negara ini memang tidak bisa dibendung dan akan bertahan terus sepanjang waktu selama Koa Tawau memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Sebatik. Warga sebatik membutuhkan Kota Tawau untuk menjual hasil perdagangan mereka dengan harga jual yang tinggi, karena apabila dijual ke Tarakan keuntungannya sangat kecil. Begitu pula sebaliknya, Tawau membutuhkan bahan mentah dari Sebatik untuk diolah dan membutuhkan tenaga kerja dari Sebatik untuk mengolah perkebunan kelapa sawit mereka, terkadang mereka juga bekerja sebagai buruh bangunan maupun penjaga toko.

Sumber:

Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, pp. 12, 141, dan 151.

Noveria, Mita. 2006. Mobilitas Penduduk Sebatik-Tawau: Dari Perdagangan Sampai Pengobatan, (online), (http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/index.php/searchkatalog/downloadDatabyId/8446/8446.pdf) , diakses 10 Maret 2012.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Tribun, Kaltim. 2011. Tingginya Angka Putus Sekolah di Sebatik, (online), (http://tribunkaltim.com/2011/08/angka-putus-sekolah-sebatik.html), diakses tanggal 15 Agustus 2011.

Wiyono, B. B. (2004). Metode Penelitian Kuantitatif,  Program SP4 Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Malang, pp. 24, 29, dan 37.
Yudhi. 2008. Nasionalisme, (online), (http://yudhim.blogspot.com/2008/01/nasionalisme.html), diakses tanggal 15 Agustus 2011.


File Artikel PDF silakan lihat di link berikut